Minggu, 19 November 2017

Cerita Nabi Muhammad SAW

1. Cerita Tentang Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam



Mari kita baca dan renungkan bersama, semoga banyak hikmah yang
bisa kita petik, sehingga kita bisa meneladani beliau.

Kalau pakaian beliau terkoyak atau robek, Rasulullah shollallahu
'alaihi wasallam menambal dan menjahitnyanya sendiri tanpa
perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing
untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

Setiap kali beliau pulang ke rumah, bila dilihat tidak ada makanan
yang sudah masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda
menyingsing lengan bajunya untuk membantu istrinya di dapur.

Sayyidatina ‘Aisyah rodliyallahu 'anhaa menceritakan: ”Kalau Nabi
berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga.

Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid,
dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sholat.

Pernah Rasulullah pulang pada waktu pagi. Tentulah beliau
amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tidak ada apa pun yang
ada untuk di buat sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena
Sayyidatina ‘Aisyah rodliyallahu 'anhaa belum ke pasar. Maka
beliau shollallahu 'alaihi wasallam bertanya, “Belum ada
sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra
untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan)

Aisyah rodliyallahu 'anhaa menjawab dengan merasa agak serba
salah, “Belum ada apa-apa Yaa Rasulallah.”

Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu saya puasa saja hari ini.”
tanpa sedikitpun tergambar rasa kesal di wajahnya.

Pernah Rasulullah bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang
paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.”

Subhaanallaah....Prihatin, sabar dan tawadhuknya Rasulullah
sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika Rasulullah menjadi imam sholat. Dilihat
oleh para sahabat, pergerakan beliau antara satu rukun ke
satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka
mendengar bunyi kemerutuk seolah-olah sendi-sendi pada tubuh
beliau yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sahabat
Umar yang tidak tahan melihat keadaan beliau itu langsung
bertanya setelah selesai sholat :

“Yaa Rasulallah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung
penderitaan yang amat berat, apakah anda sakit yaa Rasulallah?”

“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, saya sehat dan segar” jawab beliau.

“Yaa Rasulallah… mengapa setiap kali baginda menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh baginda?

Kami yakin anda sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.

Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat
terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai
kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu
kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali
bergeraknya tubuh baginda.

“Yaa Rasulallah! Adakah bila baginda menyatakan lapar dan tidak
punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat baginda?”

Lalu beliau menjawab dengan lembut dan senyum, ”Tidak para
sahabatku. saya tahu, apa pun akan kalian korbankan demi
Rasulmu. Tetapi apakah yang akan saya jawab di hadapan
ALLAH nanti, apabila saya sebagai pemimpin, menjadi beban
kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH
buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia
ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

Subhanallaah...betapa cintanya beliau kepada umatnya.....
sedang cinta kita kepada beliau??? apakah kita sering ingat
pada beliau??? apakah kita sering membaca sholawat untuk
beliau??? apakah akhlak Rasulullah yang begitu lembut,
santun, pemaaf, ikhlas dan tawadlu' serta selalu menyentuh
hati telah kita teladani???

Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di
sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.

Hanya diam dan bersabar saat kain surbannya diambil
dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas
merah di lehernya.

Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh
tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum
menegur dengan lembut perbuatan itu.

Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH TA'ALA dan rasa
kehambaan dalam diri Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam
 yang tinggi menjadikan beliau seorang yang tawadlu' yang
tidak ingin dimuliakan.

Anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk
merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun
dalam kesendirian.

Ketika pintu Surga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda,
baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari,
terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh,
lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah
tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi.

Bila ditanya oleh Sayyidatina ‘Aisyah rodliyallahu 'anhaa,
“Yaa Rasulallah, bukankah anda telah dijamin Surga?
Mengapa anda masih bersusah payah begini?”

Jawab baginda dengan lunak, “Yaa ‘Aisyah, bukankah
saya ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya saya
ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”

Rasulullah benar-benar sosok hamba yang sangat
bersyukur kepada-Nya, beliau mensyukuri semua anugerah
yang beliau terima dengan ibadah yang sungguh-sungguh....
Subhaanallaah.....

Renungan untuk kita, bagaimana ibadah kita, sudahkah
sungguh-sungguh sebagaimana Rasulullah??? atau masih
jauh dari rasa sungguh-sungguh??? ataukah masih
merasa berat atau merasa terbebani dengan ibadah-ibadah
yang Allah wajibkan pada kita??? jawabannya ada di hati
kita masing-masing....bila kita mau berfikir memang nikmat
Allah pada kita banyak sehingga tidak mungkin kita
menghitungnya, tapi sayang banyak manusia yang tidak
mau memikirkan dan merenungkan nikmat-nikmat Allah
yang telah diberikan-Nya, terutama nikmat IMAN dan ISLAM.

Allah telah berfirman dalam QS. Al-Qolam ayat 4
yang terjemahnya "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad)
benar-benar berakhlak (berbudi pekerti) yang agung"

Demikian sedikit apa yang ana bisa sampaikan tentang
agungnya dan mulianya Rasulullah, tidak lupa ana sampaikan
terima kasih kepada siapa yang menyempatkan waktu
membaca artikel sederhana ini.




2. Bismillahirrahmaanirrahiim

Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari Tabuk,
peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar
ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang
ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang
tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan,
Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika
itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut
melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang
matahari.

Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu
kasar sekali?"
Si tukang batu menjawab, "Ya Rasulullah, pekerjaan saya
ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya
jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi
nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar."

Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang
paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu
yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasulpun
menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,

"Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada", 'inilah tangan
yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka
selama-lamanya'.

***

Rasulullahl tidak pernah mencium tangan para Pemimpin
Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun.
Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan
tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah.
Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh
Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh
dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena
kerja keras.

Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan
Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang
giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata,
“Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan
orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah
(Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu
Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk
menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka
itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi
kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka
itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan
dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu
fi sabilillah.” (HR Thabrani)

***

Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya
tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian
dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan
kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin
terhadap para pemalas.

”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah
kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah
dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)

”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai
hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang
luas di bumi ini”. (QS Nuh19-20)

***

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam
mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”.
(HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja,
maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan
sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya.
Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan
hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak
dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para
sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya,
wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah
dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah
untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan
Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)


3. Kisah Rasulullah dan Seorang Badui

PADA suatu masa, ketika Nabi Muhammad SAW sedang
tawaf di Kaabah, baginda mendengar seseorang di
hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”
Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berhenti di satu sudut Kaabah dan menyebutnya
lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di
belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh
ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat
tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau
sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui?
Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu
akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW
tersenyum lalu berkata:

“Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”

“Belum,” jawab orang itu.

“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya,
sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan
perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu
dengannya,” jawab orang Arab badwi itu.

Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang
Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu
nanti di akhirat.”

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak
percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi
Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.
Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua-dua
kaki Rasulullah SAW.

Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab
badwi itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah
berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya
dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya.
Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi
seorang yang takabur, yang minta dihormati atau
diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira
bagi orang yang beriman dan membawa berita
menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita
dari langit, dia berkata, “Ya Muhammad, Tuhan
As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan
berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak
terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah
bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar
nanti, akan menimbang semua amalannya, baik
yang kecil mahupun yang besar.”

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.
Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta
kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan
atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat
perhitungan denganNya.”

Orang Arab badwi berkata lagi, “Jika Tuhan akan
memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba
akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya.
Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka
hamba akan memperhitungkan betapa luasnya
pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan
hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula
betapa dermawanNya.”

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka
Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa
benarnya kata-kata orang Arab badwi itu sehingga
air mata meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata,
“Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam
kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada
menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga
Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia
bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu,
bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga
tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah
mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi
temanmu di syurga nanti.”

Betapa sukanya orang Arab badwi itu, apabila mendengar
berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan
rasa terharu.

*********************************************************************

0 komentar:

Posting Komentar