Nasab dan Kabilahnya
Orang Arab sangat memperhatikan nasab mereka. Bagi mereka
mengetahui asal-usul pribadi dan silsilah keluarga sangatlah penting. Berbeda
dengan tradisi di negeri kita, mengetahui bibit, bebet, dan bobot seseorang
hanya diperhatikan ketika hendak mencari pasangan. Oleh sebab itu, orang-orang
Arab tidak pernah bertanya asal daerah, tapi yang mereka tanyakan adalah nasab.
Karena itulah, ketika membahas biografi seorang sahabat,
penting pula bagi kita mengetahui nasabnya. Sahabat Anas bin an-Nadhar adalah
Abu Amr Anas bin Nadhar bin Dakhm an-Najjari al-Khazraji al-Anshari. Beliau
merupakan paman dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, khadim Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari nasab Anas kita mengetahui bahwa ia masih memiliki
kekerabatan dengan Nabi. Karena buyut Nabi yang bernama Hasyim menikahi seorang
wanita dari Bani Najjar dan lahirlah kakek beliau Syaibatul Hamd atau yang kita
kenal dengan laqob Abdul Muthalib.
Memeluk Islam
Anas bin Nadhar radhiallahu ‘anhu memeluk Islam setalah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Dan ia termasuk
seorang yang dipuji oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Menyertai Rasulullah Dalam Perang Uhud
Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkisah:
Pamanku, Anas bin an-Nadhar, tidak turut serta bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Badar. Ia pun berkata kepadaku, “Aku
luput dari perang pertama yang dilakoni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Sekiranya Allah mengizinkanku nanti untuk turut berperang bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah akan melihat apa yang akan
kulakukan”. Ia takut berkata lebih dari itu.
Kemudian ia pun turut berperang bersama Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Perang Uhud di tahun berikutnya (setelah
Perang Badar). Saad bin Muadz radhiallahu ‘anhu datang menemuinya dan berkata,
“Wahai Abu Amr hendak kemana?” tanya Saad. Anas menjawab, “Ini dia kurasakan
harum angin surga di balik Uhud”. Ia pun berperang hingga syahid di medan Uhud.
Saat ditemukan jasadnya, terdapat 80-an sobekan luka.
Tusukan tombak dan bekas anak panah yang menancap. Kata Anas bin Malik,
“Bibiku, ar-Rubai’ binti an-Nadhar berkata, ‘Aku hampir tidak mengenali
saudaraku kecuali melalui ruas-ruas jarinya’.”
Peranannya
Dalam riwayat al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu
‘anhu, ia berkata, “Kami memandang ayat ini turun tentang Anas bin an-Nadhar:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ
فَمِنْهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang
menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada
yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka
tidak merubah (janjinya).” [Quran Al-Ahzab: 23]
Diriwayatkan juga oleh al-Bukhari dari Anas bahwasanya
bibinya Rubai’ binti an Nadhar mematahkan gigi seri seorang gadis. Dari
keluarga Rubai’ meminta diyat dan maaf sedangkan keluarga gadis itu keberatan.
Mereka pergi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi memerintahkan
mereka untuk melaksanakan qishash. Anas bin an-Nadhar berkata, “Apakah harus
dipatahkan gigi Rubai’ wahai Rasulullah? Tidak demi Allah yang telah mengutus
Anda dengan benar, janganlah patahkan giginya.” Rasulullah bersabda, “Hai Anas,
menurut kitabullah adalah qishash.” Akhirnya keluarga gadis merelakan dan
memberi maaf. Maka Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya di antara hamba Allah ada
orang yang jika bersumpah atas nama Allah, Allah menerimnya.”
Dari Al-Fazari dari Humaid dari Anas terdapat tambahan
“Keluarga perempuan tersebut ridha dan menerima diyatnya.”
Kepahlawanan di
Perang Uhud
Saat Perang Uhud tengah berkecamuk, tersebar berita bahwa
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam gugur. Beliau terbunuh dalam peperangan.
Anas bin an-Nadhar terus berperang. Ia melihat Umar dan beberapa orang
bersamanya sedang terduduk. Ia berkata, “Kenapa kalian duduk (bersedih)?”
Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah terbunuh.”
“Jika begitu, apalagi yang akan kalian perbuat mengisi hidup
setelah beliau wafat? Berdirilah! Gugurlah dengan cara beliau meninggalkan dunia!”
Kata Anas membakar semangat para sahabat. Kemudian Anas menghunuskan pedangnya
hingga ia gugur dalam Perang Uhud.
Wafat
Anas bin an-Nadhar radhiallahu ‘anhu syahid di medan Perang
Uhud. Tubuhnya berselimut luka. Setidaknya ada 80-an luka dari sabetan pedang,
tusukan tombak dan anak panah. Saking banyak luka di tubuhnya, jasadnya sulit
dikenali. Hanya saudarinya, Rubai’, yang mengenalinya melalui ruas-ruas
jarinya.
Semoga Allah meridhai beliau, sahabat yang mulia, Anas bin
an-Nadhar radhiallahu ‘anhu.
Rujukan:
– Ibnul Jauzi. Sifatu-sh Shafwah.
– Sayyid bin Husein al-‘Afani. Fursani-n Nahar mina-sh
Shahabati-l Akhyar.
– https://islamstory.com/-أنس_بن_النضر

0 komentar:
Posting Komentar